Opening

Rabu, 10 April 2013

Pemujaan


Pada garis besarnya pengertian pemujaan mencakup dua aspek, yaitu antara yang memuja dan yang dipuja. Dalam  hal puja memuja, dapat digolongkan menjadi beberapa bagian yakni:
1.    Puja memuja antar sesama manusia
Pada hematnya manusia memuja manusia lainnya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain pemujaan yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta hingga menyebabkan terjadi
perubahan sikap, perilaku, tutur kata, dan hal-hal yang menimbulkan perubahan itu sebagaimana layaknya jatuh cinta.
Di sisi lain, ungkapan perasaan jatuh cinta biasanya terlontar melalui pengabdian pada pahatan, patung, ukiran puisi, lagu-lagu, salam sayang via radam dan berbagai bentuk pernyataan tentang jatuh cinta yang semuanya terhimpun di dalam lingkup pemujaan. Bahkan dengan kata pemujaan, Adolf Hitler harus bersedia meneguk racun bersama sang pujaan Eva Braun menjelang akhir pernag dunia II.
Sebagai pernyataan cinta yang sangat mendalam kepada sang pujaan yang telah meninggal, maka diabadikan rasa kecintaan kepada istrinya dengan mendirikan Taj Mahal di India termasuk salah satu dari tujuh keabadian dunia. Konon kabarnya bangunan Taj Mahal dihiasi dengan ± 100.000 butir berlian.
Kisah romeo dan juliet juga merupakan bagian dari refleksi cinta yang berjuang pada pemujaan. Pemujaan yang berkaitan dengan idola, dikagumi, dipuja-puja, diagung-agungkan, menjadikan seseorang harus mempertaruhkan segala sesuatu demi yang dipuja.
Hal demikian nampak pada bidang ideologi dan politik misalnya; antara lain fanatisme rakyat Jepang terhadap Teno Haika (pasca perang dunia II).  Musollini dengan fasisme yang sangat dipuja oleh sebagian rakyat italia, Nazizme dengan Adolf Hitler sebagai gembongnya sangat dipuja oleh para pengikutnya.
Di bidang seni, pemujaan terhadap seorang seniman pun tak kalah pentingnya. Karena fanatisnya pengagum John Lenon (lagunya Imagine of the people’s), maka tak segan-segan sipemuja harus menembak mati penyanyi tersebut. Elvis Preisley sangat di kagumi dan di puja-puja oleh para pengikutnya. Walaupun telah lama meninggal, namun rasa pemujaan terhadap dirinya tetap hidup melalui lagu-lagunya yang pernah populer.
Di bidang kepemimpinan dan pemerintahan, tengoklah negara Libya dengan Muammar (revolusi Iran) menjatuhkan kepemimpinan Reza Pahlevi, Mao Tse Tung di RRC (berbaur dengan faham komunis), Ho Chin Min di Vietnam, Fideal Castro di Cuba. Kesemuanya inilah keunggulan-keunggulan tipe kharismatik dalam kepemimpinan dan pemerintahan, baik yang lebih di dominasi oleh faham, ideologi, serta aliran juga yang dilandasi oleh keyakinan dalam kefanitikan yang dogmatis.
Kesemuanya menyatu dalam suatu kerangka pengangguran yang bernuansa pada pemujaan tanpa memperhitungkan batas waktu berakhirnya kejayaan yang dipuja.

2.    Manusia memuja alam
Manusia memuja alam mengandung dua hal di dalamnya: pertama alam dipuja oleh manusia dengan maksud agar alam bersikap ramah dan bersahabat. Alam ditempatkan sebagai suatu bagian dengan diri manusia. Alam yang memiliki dua kekuatan kesejaga dan (siang dan malam) juga memiliki empat potensi alamiah (tanah, air, api, dan angin) eksistensinya dijabarkan kedalam satu metafora simbolis yang terwakilkan di dalam diri manusia.
Agar alam dapat bersahabat, maka diperlakukan pemujaan oleh manusia melalui perbuatan ritual. Kadar ritualnya senantiasa di tentukan oleh kesempurnaan dalam satu cara pemujaan, lengkap dengan peralatan yang berfungsi sebagai simbol. Setiap simbol selalu mewakili berbagai aspek dari aktifitas tingkah laku manusia.
Dalam hal pemujaan terhadap alam, tidak hanya terbatas pada kalangan  masyarakat sederhana, akan tetapi mencakup seluruh kelompok manusia. Semboyan “back to nature” (kembali ke alam bebas) merupakan suatu pernyataan kalangan masyarakat modern yang berusaha agar selalu bersahabat dengan alam. Walaupun semboyan tersebut tidak langsung sebagai suatu pemujaan kepada alam, namun dari segi pengagumannya sekelompok dari masyarakat modern itu beralih kembali memilih hidup di gua-gua layaknya seperti manusia purba.
Walaupun demikian alam tak pernah mengingkari janji setelah ditaklukkan, dikurasi, dikuasai, digarap habis-habisan. Alam beraksi menjatuhkan sanksi dengan berbagai bentuk (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa) dan tinggalah manusia meratapi nasibnya. Lahirlah ciptaan berupa hymne-hymne didengarkan dalam tema antara pemujaan dan penyesalan silih berganti, namun alam tetap berjaya di dalam kesejagadannya.

3.    Manusia memuja benda
Pada hakekatnya benda (materi) sangat di butuhkan dalam kehidupan manusia, sepanjang benda itu bukan merupakan tujuan akhir. Pemujaan manusia terhadap benda secara berlebihan pasti akan mengundang kamelut. Karena benda beralih fungsi dari peranannya sebagai alat perpaduan hidup berubah menjadi sesuatu yang dipuja dan dipertuhan selama masih mampu untuk mengakumulirnya.
Daya pengakumulasi benda yang dipuja dan dipertuan sehingga melampaui batas nilai harga diri dan keyakinan niscaya akan melahirkan konsepsi yang bermuara pada:
a.    Hilangnya martabat dan hak azasi akibat penilaian terhadap manusia lainnya tidak lebih dari seperangkat organ jasad yang dapat saja di campurkan bila tak berguna.
b.    Munculnya perlakuan-perlakuan bercorak eksploitasi dan penindasan terhadap sesama dengan landasannya tujuh menghalalkan segala cara. Dalam hal ini sosok sesama manusia di anggap sebagai kelompok human yang sewaktu-waktu tak berfungsi dapat di binasakan.
c.    Dalam konteks sosialisasi interaksi sosial akan tumbuh kecemburuan dan pertentangan kelas, persaingan pemutusan hubungan relasi-relasi sosial, ketersaingan kecurigaan yang pada gilirannya berakhir dengan konflik. 
Hal-hal yang disebutkan diatas hanya menyebutkan sebagian dari reaksi yang timbul akibat sangat berlebihannya pemujaan terhadap benda. Terjerumuslah manusia ke dalam kehidupan materialistik yang membentuk suatu faham yang disebut materialisme.
Dari pengertian tentang materialisme (bukan pendapat sang guru besar tersebut) jelaslah terdapat pertentangan yang sangat prinsipil. Dalam hal ini keberadaan segala sesuatu termasuk manusia semuanya adalah materi, kejasmanian. Apa yang disebut rohani, perasaan, kasih sayang, timbang rasa, harga diri, keyakinan, agama, dan sebagainya oleh penganut, materialisme di anggap tidak ada. Yang ada hanyalah materi atau benda.
Jika demikian halnya maka manusia berada pada ambang kehancuran, kehilangan identitas diri, dan berakhir dengan tidak punya arti apa-apa. Yang tertinggal hanyalah cara-cara pemuja benda, penganut materialisme yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, tak segan-segan dan tak punya peri kemanusiaan menghancurkan lawan-lawannya.

4.    Manusia memuja dewa
Hal ini mtermasuk dalam lingkup keyakinan berkepercayaan (khususnya agama-agama samawi). Namun demikian keyakinan berkepercayaan seperti itu tak perlu diganggu gugat, bahkan sebaliknya harus di hargai karena keyakinan berkepercyaan sebagaimana di maksud adalah milik orang lain.
Dikalangan masyarakat India pemujaan terhadap dewa dikaitkan dengan sistem kasta, sehingga menyebabkan timbulnya strata sosial yang terbagi-bagi dalam penggolongan. Untuk itu, perlu dipahami penggolongan kelompok masyarakat di India berdasarkan sistem kasta, berbeda dengan sistem kelas-kelas dalam masyarakat ciptaan Karl Marx.
Penggolongan yang dimaksud lebih di tekankan pada keyakinan penganut terhadap salah satu dari tingkatan dewa yang terpilih untuk diyakini (brahmana, wisnu, siwa, waisa dan sudra). Terbagi-bagilah masyarakat dalam kelompok yang menempatkannya pada posisi sesuai tingkatan kedewaan untuk dipuja. Masing-masing tingkat kedewaan memiliki ciri tersendiri sehingga mempengaruhi tatanan kehidupan pada lingkup strata sosisal dalam hubungan kekerabatan.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu diluar India, pemujaan terhadap dewa-dewa selalu di hubungkan atau berhubungan dengan dunia roh. Walaupun antara dewa dan roh kedua-duanya adalah abstrak, namun kepercayaan meyakini keberdaannya tak dapat di pungkiri. Dalam konteks pemujaan, dewa-dewa dipuja sekaligus di tempatkan pada posisi sebagai sumber ajaran-ajaran hidup untuk selanjutnya di terima dan diyakini dalam bentuk agama.
Dunia roh dipuja lengkap dengan sesajen, mantra-mantra, persembahan berskala ritualitas, untuk selanjutnya dipadukan dalam kehidupan dan diyakini sebagai religi (kepercayaan). Dalam perjalanan hidup manusia, pemujaan terhadap dewa-dewa dan dunia roh merupakan serangkaian tata perilaku yang berpola. Hal demikian dimaksudkan sebagai perwujudan dari sistem pengaturan dalam cara teknis pemujaan yang di kontrol oleh nilai di dalam norma-norma tertentu khusus berkaitan dengan hal tersebut.
Itulah sebabnya terdapat perbedaan antara tata perikaku yang dikondisikan dengan cara dan tekhnis pemujaan terhadap dewa-dewa dan dunia roh, dibanding dengan aktifitas tingkah laku sehari-hari.

5.    Manusia memuja Tuhan Yang Maha Esa
Pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan agama yang diyakini oleh setiap kelompok masyarakat. Dikalangan masyarakat yang beragama islam khususnya, pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diatur berdasarkan dengan syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan diperjelas teknis serta cara pelaksanaannya melalui hadits Rasulullah. Bahkan dengan kekhususan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dan semata-mata untuk dipuji hanya Allah.
Dalam hal pemujaan manusia kepada tuhan yang Maha Esa, pada hematnya mengalami pasang surut. Hal ini dibuktikan oleh kebiasaan manusia yakni dia mengalami kesusahan baru memuja Tuhan. Sebaiknya, bila dalam kesenangan, Tuhan dilupakan untuk dipuja. Menelusuri jauh tentangg pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ditempulah berbagai cara yang menghasilkan lahirnya sekte-sekte. Setiap sekte mempunyai aturannya tersendiri dan biasanya membentuk organisasi keagamaan. Sesuai dengan program yang digariskan oleh masing-masing sekte.
Sebagai suatu fenomena bersifat sosio-religius pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa selalu berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Baik menyangkut keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, dijauhkan dari segala bencana, kemakmuran, mampun yang berkenaan dengan rejeki, perluasan usaha, jodoh, ketentraman hidup, termasuk mendapatkan anak pelanjut keturunan, dan sebagainya.
Refleksi dari pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan tuntutan yang dihajatkan seperti disebutkan perwujudannya dalam berbagai bentuk ritus keagamaan. Bentuk-bentuk ritus yang beranekaragam itu berfungsi sebagai wahana dalam menyampaikan segala yang dinginkan melalui pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dikalangan masyarakat muslim adalah melalui ibadah wajib maupun sunat. Selain itu, semua ibadah wajib maupun sunat bukan merupakan perbuatan ritual. Misalnya, kegiatan ibadah seperti shalat, shiam (puasa), zakat, haji/qurban. Seringkali terjadi kekeliruan yang menganggap bahwa kegiatan-kegiatan ibadah tersebut dapat diartikan sebagai perbuatan ritual. Untuk itu, perlu dijelaskan tentang perbuatan ritual yang dilakukan oleh semua kelompok masyarakat.
Kata “ritual” berasal dari “ritus, rite” yang artinya secara umum, yaitu upacara peralihan, dilengkapi dengan beragam peralatan upacara (ceremonial equipment), sesajen, mantera-mantera dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa di dalam syariat Islam pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ( dalam hal ini adalah Allah ) melalui ibadah-ibadah baik yang diwajibkan maupun yang sunat, tidak ada hubungannya dengan perbuatan ritual atau jelasnya adalah dengan contoh yang sederhana saja, apakah mungkin ibadah shalat dilaksanakan, dilengkapi dengan sesajen dan mantera-mantera ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar