Opening

Senin, 07 April 2014

Konsep Belajar



Dalam suatu kehidupan setiap saat terjadi suatu proses belajar mengajar, baik disengaja maupun tidak disengaja, disadari atau tidak disadari. Dalam proses pembelajaran unsur belajar memegang peranan penting. Belajar merupakan suatu proses dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar juga merupakan suatu aktivitas mental dan fisik yang berlangsung dengan interaksi aktif dengan lingkungan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.
Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Kemampuan manusia untuk belajar
merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.
Cronbach dalam Baharuddin, dkk (2007:13) ”Learning is shown by change in behavior as result of experience”. Menurut defInisi tersebut, Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Dengan pengalaman tersebut pelajar menggunakan seluruh pancaindranya.


Slameto (2010: 13) mengemukakan tentang belajar yaitu : “Belajar   ialah   suatu    proses    usaha   yang   dilakukan   seseorang   untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil penilaiannya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya.

Bell-Gredler dalam Baharuddin, dkk (2007:12) Belajar mempunyai keuntungan, baik bagi individu maupun bagi masyarakat, bagi individu kemampuan untuk belajar secar terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya, sedangkan bagi masyarakat belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi.

Hudoyo dalam Lisnawati  (2010:6) mengulas tentang belajar sebagai berikut: Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk dan berkembang disebabkan karena belajar".
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungannya perlu diatur sedemikian rupa sehingga timbul reaksi peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan.
Belajar membawa sesuatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan sikap, pengertian, penghargaan, minat dan penyesuaian diri. Oleh karena itu, seseorang yang belajar tidak sama lagi pada saat sebelum belajar. la lebih sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan keadaan dan ia tidak hanya menambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula menerapkannya secara fungsional dalam situasi hidupnya.
Dalam pembelajaran Sosiologi di kelas peserta didik juga diharapkan dapat mencapai indikator yang telah direncanakan sebelumnya. Hal ini sebagai tolak ukur perubahan tingkah laku yang dialami peserta didik.
Pada prinsipnya proses belajar yang dialami manusia berlangsung sepanjang hayat, artinya belajar adalah proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan terbatas pada dinding kelas.  Hal ini didasari pada asumsi bahwa di sepanjang kehidupannya,  manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah, rintangan-rintangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Prinsip belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal seperti yang dirumuskan UNESCO, yaitu: (1) learning to know, yang berarti juga learning to learn; (2) learning to do; (3) learning to be, dan (4) learning to live together.
Learning to know atau learning to learn mengandung pengertian bahwa belajar itu pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk atau hasil belajar, akan tetapi juga harus berorientasi kepada proses belajar. Dengan proses belajar, siswa bukan hanya sadar akan apa yang harus dipelajari, akan tetapi juga memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana cara mempelajari yang harus dipelajari itu.
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global.
Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi dirinya sendiri”. Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.
Learning to live together adalah belajar untuk bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntunan kebutuhan dalam masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya.
Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya. Ada beberapa teori belajar yang mendukung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri diantaranya:
a.    Teori Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar terbagi empat periode yaitu: a) Periode Sensori Motor (0–2 tahun);  b) Periode Praoperasional (2-7 tahun); c) Periode Operasional Konkrit (7-11 tahun); d) Periode Operasi Formal (11-15) tahun. Sedangkan konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget yaitu: skemata (dipandang sebagai sekumpulan konsep); asimilasi (peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang telah dimiliki seseorang; akomodasi (terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama); dan equilibrium (bila keseimbangan tercapai  maka siswa mengenal informasi baru).
b.    Teori Bruner
Teori belajar Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti tiga tahap representasi yang berurutan, yaitu: a) Enaktif, segala perhatian anak tergantung pada responnya; b) Ikonik, pola berpikir anak tergantung pada organisasi sensoriknya dan c) Simbolik, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal sehingga anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.
Implikasi teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah. Dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dalam benaknya.
c.    Teori Vygotsky
Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya (zone of proximal development), yaitu perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Vygotsky juga menjelaskan bahwa proses belajar terjadi pada dua tahap yaitu: tahap pertama terjadi pada saat berkolaborasi dengan orang lain, dan tahap berikutnya dilakukan secara individual yang di dalamnya terjadi proses internalisasi. Selama proses interaksi terjadi, baik antara guru-siswa maupun antar siswa, kemampuan seperti saling menghargai, menguji kebenaran pernyataan pihak lain, bernegosiasi, dan saling mengadopsi pendapat dapat berkembang.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar